Rusia Berjanji Akan Membalas Penambahan Sanksi Terbaru dari AS
Rusia menyesalkan sanksi terbaru yang AS berikan kepada Rusia terkait konflik di Ukraina dan berjanji akan membalas hal tersebut, demikian menurut para pejabat di Kremlin.
Seperti yang diberitakan TASS pada Rabu (21/6), Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan bahwa Kremlin melihat penambahan sanksi dari AS “jauh dari konstruktif dan, lebih penting lagi, jauh dari menunjukkan keinginan menyelesaikan masalah di Ukraina sebagai prioritas,” dan bahwa para pakar di Rusia sedang mempertimbangkan langkah-langkah pembalasan.
Ajudan Presiden Rusia Yuri Ushakov mengatakan bahwa Moskow akan membalas sanksi terbaru dari AS tersebut. “Tentu saja,” ujarnya ketika ditanya apakah Rusia akan membalas tindakan AS.
Pada Selasa (20/6) Departemen Keuangan AS mengumumkan penambahan sanksi terhadap 38 individu dan entitas Rusia, terkait konflik yang sedang berlangsung di Ukraina. Sanksi meliputi pelarangan individu atau entitas AS untuk berbisnis dengan industri pertahanan, intelijen, pertambangan, perkapalan, dan kereta api, serta pembatasan kerja sama dengan bank dan perusahaan energi Rusia.
Perang saudara di timur Ukraina telah berlangsung sejak 7 April 2014. Konflik bersenjata ini terjadi ketika pasukan tentara Ukraina berkonfrontasi dengan pasukan Republik Rakyat Donetsk (DNR) dan Republik Rakyat Lugansk (LNR) yang memproklamasikan kemerdekaannya dari Ukraina. Pertempuran sengit di timur Ukraina terus berlangsung hingga perjanjian Minsk berhasil dicapai pada 12 Februari 2015. Setelah itu, situasi sempat membaik, tetapi hingga kini aksi saling serang masih terus berlangsung.
Selain menuduh mengobarkan konflik di Ukraina, AS juga bersikeras bahwa Rusia "merebut Krimea" dari Ukraina.